Rumput Calincing (Oxalis corniculata L.)

Ada yang hampir setiap minggu mencabuti rumput calincing dari pot bunga atau pekarangan. Ada pula yang tanpa ragu menyemprotnya dengan herbisida karena dianggap musuh bebuyutan tanaman. Namun siapa sangka, gulma mungil itu justru telah digunakan sebagai obat tradisional di berbagai negara selama ratusan tahun.

Di Kamerun, calincing direbus untuk membantu mengatasi diare. Di Malaysia, tanaman ini dimanfaatkan sebagai ramuan pendamping penderita diabetes. Bahkan penelitian di Indonesia menunjukkan ekstraknya mampu menghambat bakteri Staphylococcus aureus lebih baik dibandingkan iodine 10% pada konsentrasi tertentu. Plot twist yang sulit dipercaya dari tanaman yang selama ini sering berakhir di tempat sampah.

Rumput Calincing, yang Ternyata Dokter Spesialis

Rumput calincing (Oxalis corniculata L.) seolah menjadi tetangga pendiam yang jarang diperhatikan, padahal diam-diam menyimpan banyak kemampuan. Di Sunda tanaman ini dikenal sebagai calincing, di Jawa disebut semanggi gunung, masyarakat Maluku mengenalnya sebagai mala-mala, sedangkan di Madura disebut cembeceran.

Ciri khasnya mudah dikenali. Daunnya terdiri dari tiga helai kecil berbentuk hati, batangnya lunak dan merayap dengan tinggi sekitar 5–35 cm, sementara bunga kuning mungilnya tampak seperti payung kecil yang bermekaran di sela rumput.Tanaman ini juga tidak pilih-pilih tempat tinggal. Pekarangan, pematang sawah, tepi jalan, hingga celah tembok yang lembap dan agak teduh bisa menjadi rumahnya.

Rahasia di Balik Daun Sekecil Kuku

Di balik ukurannya yang mungil, calincing memiliki “tim kerja” yang bekerja sama menjaga tubuh.

Flavonoid dan tanin berperan sebagai pembasmi bakteri sekaligus membantu meredakan peradangan. Vitamin C menjadi penjaga daya tahan tubuh dan antioksidan yang melawan radikal bebas. Saponin serta polifenol membantu melawan reaksi alergi sekaligus mendukung proses detoksifikasi alami tubuh.

Sementara itu, minyak atsiri bersama tanin memberikan efek antimikroba dan astringen, yaitu membantu mengencangkan jaringan yang meradang. Ada pula asam oksalat yang memberi sensasi asam-sejuk, meski kandungan ini harus disikapi dengan bijak karena berlebihan justru bisa menimbulkan masalah kesehatan.

Ibarat satu regu kecil dengan senjata berbeda, setiap senyawa memiliki tugas masing-masing. Ada yang menghadapi bakteri, ada yang melawan radikal bebas, dan ada yang membantu menetralkan racun.

Manfaat Rumput Calincing dalam Pengobatan Tradisional

 

Jauh sebelum laboratorium modern berkembang, masyarakat sudah memanfaatkan calincing sebagai tanaman obat.

Berbagai literatur herbal mencatat penggunaannya untuk membantu meredakan demam, mendukung kesehatan hati pada hepatitis, serta membantu menurunkan tekanan darah. Dalam buku Cabe Puyang Warisan Nenek Moyang, tanaman ini juga digunakan untuk mengatasi radang tenggorokan, radang amandel, bisul, hingga biang keringat.

Tak berhenti di situ, calincing juga dimanfaatkan secara turun-temurun untuk infeksi saluran kemih, terlambat haid, diare, dan perut kembung. Air tumbukan daunnya bahkan digunakan sebagai obat kumur alami untuk radang mulut dan bau mulut, sedangkan pada beberapa daerah dimanfaatkan sebagai tetes mata tradisional untuk mata gatal.

Ada pula ramuan rebusan sekitar 30–60 gram tanaman segar yang diminum pagi dan sore sebagai pendamping untuk membantu menjaga fungsi ginjal. Meski demikian, penggunaan seperti ini tetap perlu dikonsultasikan kepada tenaga kesehatan atau herbalis yang kompeten.

Jangan Asal Konsumsi, Si Mungil Ini Tetap Harus Dihormati

Meski kaya manfaat, calincing bukan berarti aman dikonsumsi tanpa batas. Kandungan asam oksalat yang tinggi dapat mengikat kalsium di dalam tubuh apabila dikonsumsi berlebihan. Karena itu, penderita batu ginjal, asam urat, rematik, hiperoksaluria, atau gangguan tertentu pada ginjal sebaiknya berhati-hati. Merebus tanaman sebelum dikonsumsi dapat membantu menurunkan kadar asam oksalat.

Hal lain yang sering terlewat adalah adanya dua spesies yang mirip, yaitu Oxalis corniculata dan Oxalis barrelieri. Bentuknya sekilas serupa, tetapi keduanya merupakan spesies berbeda sehingga penggunaan herbalnya pun tidak selalu sama.

Sebaiknya hindari pula memetik calincing yang tumbuh di tepi jalan raya atau lahan yang baru disemprot pestisida karena berisiko terkontaminasi polutan dan bahan kimia.

Jika tertarik menjadikannya sebagai herbal pendamping, konsultasikan terlebih dahulu dengan ahli herbal atau tenaga kesehatan, terutama bila memiliki penyakit tertentu atau sedang mengonsumsi obat.

Calincing sudah tumbuh di pekarangan kita jauh sebelum kita lahir dengan sabar, diam, dan setia. Mungkin sudah saatnya kita yang berhenti sejenak dan mulai belajar mendengarkan apa yang ditawarkannya. (Rinal 18/08/2026)

 


Komentar Postingan

Bagaimana Tanggapan Pak Bos?