pak prawito

Strategi Modernisasi Pertanian Tebu ala Pak Prawito

Membangun usaha pertanian yang berkelanjutan di era modern membutuhkan kombinasi antara pengalaman lapangan dan keterbukaan terhadap teknologi. Hal inilah yang diterapkan oleh Pak Prawito (42), seorang petani tebu sekaligus perangkat desa dari Desa Jati, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar.

Sejak memulai langkahnya pada tahun 2006, Pak Prawito telah mengabdikan diri selama hampir dua dekade untuk memahami karakteristik tanaman tebu. Mari kita simak bagaimana Pak Prawito mengelola lahan dan menghadapi tantangan zaman.

Pengolahan Lahan dan Pemilihan Varietas

boxer rotary

Saat ini, Pak Prawito mengelola sekitar 15 hektare lahan tebu yang tersebar di wilayah Blitar, Tulungagung, dan Kediri. Dalam praktiknya, Pak Prawito sangat memperhatikan aspek-aspek berikut:

  • Varietas Unggul: Beliau memilih varietas Matas BL, yang dikenal memiliki daya adaptasi tinggi terhadap kondisi tanah di wilayah Blitar dan sekitarnya.
  • Siklus Tanam: Penanaman dilakukan secara terencana pada bulan Mei hingga Juli. Langkah ini memastikan masa panen jatuh pada waktu yang tepat, yakni antara Mei hingga Oktober.
  • Efisiensi Bibit: Untuk menekan biaya produksi yang tinggi, Pak Prawito memilih untuk memproduksi bibit secara mandiri, mengingat kebutuhan bibit mencapai 10 ton per hektare.

Teknik Budidaya Dari Manual ke Mekanisasi

Pendidikan bagi petani sangat penting, terutama dalam hal transisi teknologi. Pak Prawito memberikan contoh nyata bagaimana penggunaan alat berat dapat meningkatkan efisiensi:

Pengolahan Lahan: Dulu Pak Prawito menggunakan cangkul secara manual. Namun, kini ia beralih menggunakan traktor dan jonder. Alat ini mempercepat proses pembongkaran lahan, pembuatan parit, hingga pembentukan guludan.

Perawatan Tanaman: Saat masa pertumbuhan, Pak Prawito menerapkan teknik ipuk (penimbunan pangkal batang). Selanjutnya, ia melakukan proses gulud sebulan kemudian. Tujuannya agar tanaman berdiri kokoh dan tidak mudah roboh.

Kebersihan Lahan (Klentek): Meskipun sudah menggunakan mesin, kebersihan tetap terjaga. Pak Prawito rutin melakukan pembersihan daun kering (klentek) secara manual. Proses ini dilakukan minimal dua kali semusim demi kesehatan tanaman.

Solusi Atasi Kelangkaan Tenaga Kerja

Salah satu tantangan terbesar bagi bapak-bapak petani saat ini adalah terbatasnya tenaga kerja manual. Menghadapi hal ini, Pak Prawito melakukan langkah edukatif dengan beralih ke mesin pertanian:

“Penggunaan mesin seperti Boxer dari Quick sangat membantu pekerjaan pedot oyot dan pembongkaran guludan. Selain lebih hemat waktu dan bahan bakar, hasilnya jauh lebih rapi dan rapat di pangkal batang,” ungkap Pak Prawito.

Dengan manajemen yang baik, lahan Pak Prawito mampu menghasilkan 140 hingga 200 ton tebu per hektare. Meskipun keuntungan sangat bergantung pada kualitas rendemen dan cuaca, Pak Prawito tetap menekankan pentingnya sikap optimistis.

Beliau percaya bahwa mekanisasi pertanian bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan agar usaha tani tebu tetap relevan dan menguntungkan di masa depan.

Apakah Bapak tertarik untuk mempelajari lebih lanjut mengenai detail biaya operasional penggunaan mesin dibandingkan tenaga manual seperti yang diterapkan oleh Pak Prawito? (rinal27/01/2026)


Komentar Postingan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *