TUMPANG SARI ATM-NYA PETANI

Gimana endak. Tiap dua – tiga hari sekali bisa tarik duit. Ya kayak ATM, ndak bisa banyak, tapi terus mengalir memenuhi kebutuhan harian rumah tangga. Gimana caranya?

Percocok tanaman cara tumpang sari sudah dikenal sejak jaman embah-embah kita. Asalnya memang ditanam untuk kebutuhan menu setiap hari. Bisa digilir setiap hari. Simbok buat sayur lodeh terong, kacang panjang, sawi, pare, kangkung atau memasak sayur bayung atau daun muda kacang panjang. Sayur yang sekarang sangat jarang di temui. Dan yang paling utama dan terpenting dari semua sayur adalah …. cabai. Tanpa keringat, makan jadi kurang nikmat.

Keuntungan lain dari pola tanam ini adalah efisiensi dalam penggunaan pupuk dan biaya pengolahan lahan. Proses persiapan lahan dilakukan hanya satu kali dalam satu kali periode tanam. Proses pembajakan dan penggemburan tanah, pemberian pupuk dasar, pupuk kandang, dolomit dan pemberian mulsa (bila perlu) hanya dilakukan pada awal periode tanam yang dapat berlangsung selama 8 - 9 bulan.

Pada pola tanam tumpang sari ada beberapa syarat tumbuh tanaman harus dikelola untuk menghasilkan tanaman yang sehat dan produktif. Tiga syarat utama. Syarat pertama adalah SINAR MATAHARI yang merata diterima setiap helai daun. Tanaman dengan umur panen yang pendek, diberi kesempatan terlebih dahulu untuk menyerap sinar matahari. Apabila tanaman ini telah dipanen, matahari akan dikonsumsi oleh tanaman yang usia produktifnya lebih lama. Untuk mengatur sinar matahari, diperlukan pengaturan jarak tanam yang cukup.

Syarat kedua adalah kebutuhan AIR yang cukup. Umumnya dalam pola tanam tumpang sari dibuat sistem guludan atau bedengan. Tanaman dengan konsumsi suka air ditanam di bagian bawah, dan yang cenderung tidak suka air di tanam di bagian atas. Unsur HARA adalah syarat ke tiga. Kandungan hara harus cukup terjaga. Dibutuhkan usur N (nitrogen) yang cukup pada fase vegetatif untuk menumbuhkan tunas dan daun.

Pada fase generatif mulai ditambahkan unsur P (fospor) untuk pengembangan akar dan pembungaan dan unsur K (kalium) untuk mencegah kerontokan bunga dan menjadikan buah. Penggunaan kotoran hewan (kohe) dan POC (Pupuk Organik Cair) adalah cara pemupukan yang paling murah. Selain itu dibutuhkan perawatan seperlunya yaitu perlakuan penambahan pupuk, penggemburan dengan proses pendangiran pencacahan dan pengendalian gulma serta hama.

Kita ambil contoh kombinasi cabai rawit, kol, sawi caisim, dan kacang panjang. Tanah diolah dan dibuatkan guludan dengan jarak antar guludan 50 cm, agar nyaman pada saat melakukan perawatan dan lebar guludan 100 cm, bisa ditutup dengan mulsa lebar 100 cm. Atur jarak tanam Cabai rawit pada jarak 60 cm di guludan bagian atas. Kol ditanam diantara cabai dengan jarak 30 x 60 cm dan sawi caisim di tanam diantara kol dengan jarak 20 cm. Kacang panjang dapat ditanam di pinggir pematang, dan bisa diganti dengan buncis, oyong/ gambas atau pare.

Pada bulan pertama atau 25 - 40 hari setelah tanam, sawi caisim sudah dapat mulai di panen. Dengan pemanen dari bonggol yang besar, akan memberi kesempatan bonggol kecil di sampingnya untuk membesar. Pengaturan ini akan menghasilkan panen optimal dan berkali setiap 2 - 3 hari sekali. Pemanenan sawi ini menjadikan cukup ruang dan sinar matahari untuk tanaman kol membesar.

Pada waktu sawi mulai habis, umur 40 – 60 hari sudah dapat dipanen kacang panjang, oyong yang ada di sekeliling lahan. Pilih yang besar dan cukup usia panen. Tanaman sayuran merambat umumnya justru tidak boleh terlalu tua untuk dipanen. Bahkan kacang panjang muda sudah layak dijual untuk dijadikan sayuran lalapan di warung K5 pecel lele.

Pada 75 hari setelah tanam, cabai rawit sudah bisa dipanen untuk cabai lalap gorengan. Tergantung dipilih, akan dipanen muda atau ditunggu sampai matang memerah. Keduanya tetap laku di pasar. Dengan perawatan dan penambahan pupuk secara berkala, cabai rawit dapat dipanen sampai umur 8 bulan dengan puncak panen produktif sebanyak 15 – 20 kali panen.

Lebar daun kol yang membesar, secara alami akan menjadi pengganti “mulsa” dari tanaman cabai. Rumput tidak akan tumbuh dibawah daun kol. Pada usia tanam 90 hari, kol dapat dipanen. Umumnya dipanen secara serentak. Jangan berhenti disitu, setelah dipanen, lubang tanam kol bisa ditanami lagi sawi caisim yang dapat dipanen sebulan lagi atau ditanami tomat yang dapat dipanen 74 – 100 hari setelah tanam. Penanaman ke dua, tentunya butuh penambahan pupuk baik dikocor atau ditabur dalam lobang tanam. Begitu seterusnya sampai bedengan/ guludan harus dibongkar dan tanah dibalik sampai 8 – 9 bulan.

Untuk hasil yang optimal sehigga mampu panen dari hari ke 25 sampai 8 bulan, setiap 3 – 5 hari, dibutuhkan pengolahan lahan yang sempurna. QUICK adalah jawabannya. Gunakan Cakar Baja dengan pisau/ Blade B untuk mencacah tanah secara sempurna. Ridger dan RTH (Rotary Transmission Housing) akan sangat membantu untuk membuat bedengan atau guludan dengan ukuran parit 50 cm dengan sempurna. Apabila tinggi bedengan sekitar 15 – 20 cm dengan lahan gembur, tidak perlu menggunakan RTH dan fungsi Cakar Baja bisa digantikan Cakar Baja Mini, Cacah Bumi atau Kultivator Kasuari. Pada waktu membersihkan gulma/ rumput di parit dapat digunakan dengan Blade 100 atau Blade 240, atau susunan Blade KSR dari Cultivator Kasuari yang sesuai.

Berikut perkiraan umur panen beberapa komoditas yang dapat dikombinasi pada sistem tumpang sari : Sawi Caisim (25 – 30hr) Wortel baby (30hr), Timun (30hr), Selada - Pakcoy (40 – 45hr), Pare - Kacang Panjang (40 – 50hr), Sawi Putih (55 – 60hr), Kol - Bunga Kol – Tomat - Wortel (75 – 90hr), Cabai Keriting, Cabai Besar – Kentang – Terong (90 – 120hr), Cabai Rawit (75 – 180hr).

 

Selamat mencoba, tetap menanam, menuai dan makan sayur untuk Masyarakat Indonesia Mandiri Pangan.(ddg)

Tumpangsari

No Comments Yet.

Leave a comment