Menjadi anggota Polri tidak menghalangi Aiptu Umam (44) untuk tetap melestarikan akar budayanya sebagai anak petani. Di Desa Rubaru, Kabupaten Sumenep, Madura, ia membuktikan bahwa dedikasi pada negara bisa berjalan beriringan dengan pengabdian pada tanah kelahiran melalui sektor hortikultura.
Desa Rubaru dikenal sebagai penghasil Bawang Merah Varietas Rubaru yang legendaris. Bawang ini memiliki keunikan pada aroma yang kuat dan tekstur yang lebih renyah, sehingga menjadi komoditas ekspor hingga ke Belanda. Selain bawang, Pak Aiptu Umam juga mengelola komoditas lain seperti cabai, mentimun khas Rubaru, buncis, dan tembakau.

Sebagai petani yang jeli, Pak Aiptu Umam menyadari tantangan terbesar petani lokal adalah tingginya biaya produksi dan lamanya waktu pengolahan lahan. Secara tradisional, petani harus menggunakan traktor singkal (Quick G1000) yang kemudian dilanjutkan dengan tenaga manusia untuk mencangkul bedengan secara manual.
“Dulu biaya tenaga kerja sangat tinggi, mencapai 120 ribu rupiah per orang setiap harinya. Selain itu, pengerjaan manual memakan waktu lama dan melelahkan secara fisik karena getaran mesin singkal yang kuat membuat lengan sakit,” ungkap Pak Aiptu Umam.
Keadaan berubah saat ia menjadi pionir penggunaan teknologi Quick Boxer Rotary di Sumenep. Teknologi ini menjadi solusi efisiensi yang luar biasa. Jika biasanya pengolahan lahan membutuhkan waktu berhari-hari dengan hasil tanah yang masih berbongkah besar, kini prosesnya jauh lebih singkat.

Penggunaan Traktor Tangan
Dengan Quick Boxer Rotary, lahan seluas 2.000 hingga 2.500 meter persegi bisa diselesaikan dalam waktu kurang dari 6 jam. Hasil cacahan tanahnya pun jauh lebih dalam dan halus, sehingga tanah langsung siap diberi pupuk dasar dan ditanami. Keunggulan lainnya adalah getaran mesin yang lebih halus, sehingga operator tidak cepat lelah.
“Hasilnya tidak kalah dengan alat roda empat. Cacahannya mantap dan langsung jadi bedengan. Ini sangat membantu kami mengejar momentum harga pasar yang dinamis,” tambahnya.
Bagi Pak Aiptu Umam, inovasi ini bukan sekadar tentang kecepatan, melainkan tentang kesejahteraan. Dengan penghematan biaya dan waktu, margin keuntungan petani bisa meningkat. Ke depan, ia berkomitmen untuk membantu warga sekitar agar bisa merasakan manfaat teknologi ini.
Kisah Pak Aiptu Umam adalah inspirasi bahwa modernisasi pertanian di tangan yang tepat dapat membawa keberkahan bagi masyarakat luas. Bertani makin efisien, petani makin sejahtera. (rinal 06/02/2026)


Leave a Reply