Beberapa minggu lalu, mungkin tidak banyak orang yang membayangkan bahwa nama sebuah umbi sederhana bisa memenuhi linimasa TikTok dan Instagram. Namun, umbi kimpul yang viral kini justru membuat banyak orang penasaran, dari generasi muda yang baru mengenalnya hingga mereka yang kembali teringat makanan masa kecil.
Fenomena itu bermula dari kreativitas seorang kreator asal Bantul yang gemar mengganti bahan makanan populer dengan kimpul. Dari mashed potato, lasagna, dumpling, hingga berbagai kudapan kekinian, kimpul ditampilkan seolah-olah mampu mengambil peran bahan pangan yang lebih familiar. Kalimat sederhana seperti “karena tidak punya, jadi saya ganti kimpul” kemudian ikut menjadi lelucon yang menyebar di media sosial.
Di balik tren tersebut, ternyata kimpul bukanlah tanaman baru. Umbi ini sudah lama dimanfaatkan sebagai sumber pangan di berbagai daerah dan memiliki nama ilmiah Xanthosoma sagittifolium. Di Indonesia, kimpul juga dikenal dengan sejumlah nama lokal, termasuk talas Belitung.
Umbi Kimpul yang Viral Ternyata Bukan Umbi Sembarangan

Secara botani, kimpul termasuk keluarga Araceae atau kelompok talas-talasan. Tanamannya memiliki daun besar dengan tangkai yang panjang, sementara bagian bawah tanahnya menghasilkan umbi yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber karbohidrat.
Menariknya, tanaman Xanthosoma diketahui berasal dari kawasan tropis Amerika, terutama Amerika Tengah dan Selatan. Dari sana, tanaman ini menyebar ke berbagai wilayah tropis dan berkembang sebagai bahan pangan yang cukup penting. Sebuah kajian menyebut cocoyam dari kelompok ini dikonsumsi oleh lebih dari 400 juta orang di dunia, meskipun potensinya masih dianggap belum sepenuhnya dimanfaatkan.
Di Indonesia sendiri, kimpul cocok dengan lingkungan tropis. Penelitian IPB mengenai talas Belitung menunjukkan bahwa tanaman ini dapat dibudidayakan dan hasilnya dipengaruhi oleh pengaturan jarak tanam serta pemupukan.
Karena itulah, popularitas kimpul sebenarnya membuka cerita yang lebih besar. Yang sedang viral bukan sekadar bahan masakan, melainkan salah satu contoh bagaimana pangan lokal bisa kembali dilihat dengan cara baru.
Kandungan Kimpul dan Potensinya sebagai Pangan

Umbi kimpul memiliki kandungan karbohidrat yang membuatnya berpotensi menjadi sumber energi sekaligus alternatif dari bahan pangan pokok yang lebih umum. Literatur mengenai Xanthosoma sagittifolium juga mencatat keberadaan protein, sejumlah vitamin, mineral, serta potensi kandungan serat pada bagian tanaman tertentu.
Potensi tersebut membuat kimpul menarik untuk dikembangkan menjadi berbagai produk pangan. Bukan hanya direbus atau dikukus, umbi ini dapat diolah menjadi tepung, keripik, perkedel, kroket, lemet, kolak, hingga makanan modern yang selama ini identik dengan kentang.
Di sinilah daya tariknya mulai terasa. Dengan pengolahan yang tepat, bahan pangan yang sebelumnya dianggap “makanan jadul” bisa masuk ke meja makan generasi baru tanpa harus kehilangan identitas lokalnya.
Jangan Asal Makan, Kimpul Perlu Diolah dengan Benar
Di balik popularitas kimpul, ada hal penting yang perlu diperhatikan. Umbi ini mengandung oksalat dan kristal kalsium oksalat. Jika tidak diolah dengan benar, kandungan tersebut bisa menyebabkan gatal atau iritasi pada mulut dan tenggorokan.
Kimpul sebaiknya tidak dimakan mentah. Umbi ini perlu dikupas, dibersihkan, lalu direbus, dikukus, direndam, atau dikeringkan. Proses tersebut dapat membantu mengurangi kadar oksalat. Kimpul juga harus dimasak hingga matang sebelum dikonsumsi.
Dari Umbi Kebun Menjadi Simbol Pangan Lokal

Popularitas kimpul bukan hanya soal tren. Hal ini menunjukkan bahwa pangan lokal juga bisa menarik perhatian masyarakat.
Kimpul dapat diolah menjadi berbagai menu modern, seperti mashed kimpul dan lasagna. Cara ini membuat masyarakat kembali mengenal bahan pangan yang mungkin sudah lama tumbuh di sekitar mereka.
Tren kimpul juga bisa meningkatkan minat generasi muda terhadap pangan lokal. Bahan makanan yang dianggap biasa dapat kembali populer dengan olahan dan penyajian yang lebih menarik.
Kimpul membuktikan bahwa pangan lama tidak selalu ketinggalan zaman. Dengan cara pengolahan dan penyajian yang tepat, umbi sederhana ini bisa kembali dikenal sebagai bagian dari kekayaan pangan lokal. (Rinal 01/09/2026)